Pencarian

+

Hadits Tentang Pemuda Yang Tidak Bermaksiat

Hadits Tentang Pemuda Yang Tidak Bermaksiat
Hadits Tentang Pemuda Yang Tidak Bermaksiat

:عن عقبة بن عامر قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم

“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنْ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ”(رواه أحمد والطبراني. تعليق شعيب الأرنؤوط : حسن لغيره)

Terjemah Hadits

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu`anhu berkata : Rasulullah shallallahu `alaihi wasallama bersabda :

“Sesungguhnya Allah subhanahu wata`ala takjub kepada seorang pemuda yang tidak memiliki sobwah

(HR. Ahmad dan Thabrani; Menurut Syu`aib Al-Arnaut bahwa hadits ini hadits hasan lighairihi)

Sekilas Tentang Sahabat Perawi Hadits

Ia adalah salah seorang sahabat Nabi shallalhu alaihi wasallama yang dikenal sebagai bagian dari assabiqunal awwalun. Dia seorang Qari (ahli baca Al Qur’an) di antara para qari terkemuka. Dia pula seorang panglima perang di antara para panglima dan penakluk yang terpandang, di antara para pemimpin yang pantas diperhitungkan.

Terkadang-kadang Rasulullah memboncengnya di belakang, sehingga ‘Uqbah digelari para sahabat “Radif Rasulullah” (boncengan Rasulullah). bahkan pernah juga Rasulullah turun dari bighal, dan menyilakan ‘Uqbah mengendarai bighal. Sedangkan Rasulullah berjalan kaki di sampingnya.

‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhani memusatkan perhatiannya kepada kedua bidang terpenting, yaitu bidang ilmu dan jihad.

Tatkala ‘Uqbah sakit mendekati ajal, dia berada di Mesir. Dikumpulkannya anak-anaknya lalu dia berwasiat : “Hai anak-anakku! Aku larang kalian melakukan tiga perkara. Maka jauhilah ketiga-tiganya. Pertama: Jangan menerima hadits Rasulullah kecuali dari orang-orang yang tsiqqah (dipercaya). Kedua: Jangan berhutang, sekalipun pakaian kalian compang-camping. Ketiga: Jangan menulis sya’ir (sajak) sehingga menyebabkan hati kalian lalai terhadap Al Qur’an.” Dia meninggal dan  dimakamkan di kaki bukit Al Muqaththam.

Penjelasan Hadits

Imam Ahmad mencantumkan hadits ini dalam Musnadnya. Juga diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Mu`jam Kabirnya. Meski dalam jalur periwayatannya ada perawi yang lemah, namun Syeikh Syuaib Al-Arnaut telah menggolongkan hadits ini menjadi hadits hasan lighairihi. Hadits hasan lighairi adalah  hadits yang dilihat dari sanadnya dha’if (lemah jalur perawinya) namun dikuatkan dari jalur lainnya, tetap tidak mengandung syadz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat) dan ‘illah (cacat pada redaksi hadits).

Pertama, dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa Allah subhanahu wata`ala takjub. Takjub adalah salah satu sifat Allah subhanahu wata`ala. Allah memiliki sifat al-`ujub yang laik dengan kekuasaan dan kebesaranNya. Takjubnya Allah subhanahu wata`ala tidak sama dengan takjubnya manusia. Karena takjubnya manusia terkadang timbul dari ketidak-tahuannya atau ketidak mampuannya melakukan sesuatu yang ia lihat. Dan hal itu mustahil bagi Allah subhanahu wata`ala Yang Maha Mengetahui.

Kedua, takjubnya Allah subhanahu wata`ala pada hadits ini ditujukan kepada seorang pemuda yang tidak memiliki shobwah, yaitu pemuda yang tidak memiliki kecenderungan untuk berbuat maksiat, berbuat jahat dan berbuat khianat. Sebagaimana sudah maklum, bahwa tabiat seorang pemuda identik dengan sifat dan tingkahnya yang unik. Umumnya masa-masa muda itu labil, belum memiliki pendirian. Kadang semangat, tapi banyak juga lesunya. Terkadang rajin, tapi lebih sering malasnya. Mereka cenderung melakukan hal-hal negatif. Waktunya banyak dihabiskan untuk bermain-main, bercanda, nongkrong-nongkrong yang terkadang tidak banyak membawa manfaat karena pengaruh dari dorongan syahwatnya. Kecenderungan inilah yang dimaksud shobwah dalam hadits di atas.

Meskipun demikian, tidak memiliki kecenderungan kepada kemaksiatan, tidak berarti otomatis dia taat beribadah kepada Allah subhanahu wata`ala. Maka sungguh amat luar biasa jika ada seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wata`ala dan tidak memiliki kecondongan untuk berbuat maksiat. Selain Allah subhanahu wata`ala takjub terhadapnya, ia pun akan diberi naungan atau perlindungan disaat tidak ada lagi naungan kecuali naungan dari Allah subhanahu wata`ala di akhirat kelak.

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menerangkan tentang tujuh golongan manusia yang akan dapat naungan di akhirat kelak, di saat tidak ada naungan atau perlindungan selain naunganNya; salah satu diantara ke tujuh golongan itu adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wata`ala dan senantiasa beribadah kepadaNya (HR. Muttafaq Alaih)

Diantara karakteristik pemuda yang tidak memiliki shobwah adalah sebagai berikut : Pertama, pemuda yang selalu menyeru kepada alhaq (kebenaran). Kedua, mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Ketiga, mereka saling melindungi dan saling mengingatkan satu sama lain serta taat menjalankan ajaran agama. Keempat, mereka adalah pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kelima, mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban dengan jiwa dan harta mereka untuk kepentingan Islam. Keenam, pemuda yang (tumbuh) selalu beribadah kepada Allah dan hatinya senantiasa terpaut dengan masjid.

Semoga sifat-sifat yang disebutkan diatas ada pada para pemuda kita jaman sekarang. Untuk menanamkan karakteristik tersebut, tentu harus melalui proses yang cukup panjang. Maka pendidikan menjadi salah satu sisi yang memiliki pengaruh paling besar dalam membentuk karakter pemuda. Mulai dari pendidikan keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah, semua harus ditanamkan kepada generasi muda ini.

Karya: Ust. Novi Maulana Yusup, Lc

Komentar
  1. Belum Ada Komentar
Tambahkan Komentar

Testimonial

Facebook

Twitter